situs judi bola

Larangan Roblox untuk Anak SD, Pakar UNJ: Dampingi dan Tingkatkan Literasi Digital

Larangan Roblox untuk Anak SD Pakar UNJ

Larangan Roblox untuk Anak SD, Pakar UNJ: Dampingi dan Tingkatkan Literasi Digital – Kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti yang melarang anak sekolah dasar bermain game Roblox menuai beragam tanggapan. Pakar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menilai langkah ini perlu diimbangi dengan pendampingan aktif dan peningkatan literasi digital, bukan sekadar pelarangan.

Alasan Dibalik Larangan Roblox untuk Anak SD

Abdul Mu’ti melarang anak SD bermain Roblox karena platform tersebut dinilai mengandung unsur kekerasan dan kata-kata tidak pantas yang berisiko mempengaruhi psikologi anak. Anak usia SD, menurutnya, belum memiliki kapasitas intelektual yang cukup untuk membedakan antara realitas dan simulasi digital. Mereka cenderung meniru apa yang mereka lihat di dunia maya tanpa filter kritis .

Langkah ini juga didukung oleh Kementerian PPPA dan Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI), yang menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget anak . Pelarangan ini bukan tanpa dasar mengingat platform Roblox memang memiliki sisi kelam. Roblox, seperti banyak game online lainnya, mengandung elemen yang bisa memicu imitasi perilaku negatif, seperti kekerasan, ujaran kasar, atau interaksi bebas dengan pengguna lain yang tidak terfilter .

Pendampingan, Bukan Sekadar Melarang

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNJ, Syaifudin, menilai bahw a pendekatan terbaik bukanlah sekadar melarang, tetapi pendampingan dan literasi digital.

“Anak-anak SD berada dalam fase perkembangan kognitif dan moral yang slot demo sangat mudah terpengaruh. Karena itu, penting sekali kita memilah dan mengawasi konten digital yang mereka konsumsi,” ujarnya.

Syaifudin juga menjelaskan bahwa alih-alih melarang, orang tua dan guru perlu memahami apa yang dimainkan anak dan menjadikan momen itu sebagai ruang dialog. Tanpa pemahaman, larangan justru bisa memicu rasa penasaran dan pemberontakan diam-diam .

Potensi Edukatif Roblox yang Perlu Diarahkan

Meski memiliki risiko, Roblox sebenarnya menyimpan potensi edukatif yang sayang untuk dilewatkan . Roblox Studio, misalnya, memungkinkan anak-anak belajar dunia desain game dan dasar-dasar pemrograman dengan bahasa Lua. Dosen PGSD Unismuh Makassar, Abd Haris Zainuddin, mengatakan bahwa Roblox juga memiliki sisi positif untuk belajar coding, desain, dan kolaborasi .

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Arina Restian, juga menyampaikan pandangan serupa. “Menurut saya, Roblox itu memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya terdapat edukasi terkait keilmuan matematika, fokus, dan strategi,” ujar Arina .

Usia Ideal dan Batasan Waktu Bermain

Syaifudin memberikan panduan tentang usia ideal anak mengenal game online. “Untuk game online, sebaiknya dikenalkan di usia di atas 10 tahun, saat anak sudah mulai bisa berpikir logis dan memahami aturan serta dampak perilaku daringnya” .

Ia juga mengingatkan bahwa screen time anak usia SD sebaiknya dibatasi. Menurut rekomendasi American Academy of Pediatrics dan WHO, anak usia 6-12 tahun maksimal 1-2 jam per hari untuk penggunaan hiburan (termasuk game dan tontonan). Dalam satu minggu tidak lebih dari 10-12 jam screen time non-edukatif .

Strategi Pendampingan dan Pengawasan

Arina Restian dari UMM menyarankan beberapa strategi konkret untuk melindungi anak dari konten negatif di Roblox :

  1. Memanfaatkan fitur kontrol usia yang disediakan secara resmi

  2. Memberikan edukasi literasi digital yang mengajarkan tentang batas aman informasi, cara menolak ajakan mencurigakan, dan pentingnya kolaborasi dengan sekolah

  3. Pemantauan rutin, misalnya melalui server privat yang edukatif

Dosen Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata, Paulus Angre Edvra, juga judi bola menyoroti pentingnya pencegahan melalui literasi digital. Ia mendorong pemerintah untuk memasukkan literasi digital ke dalam kurikulum pendidikan agar anak-anak terbekali dan terlindungi di ruang digital . “Literasi media berbeda dengan coding, ini lebih ke edukasi mengenal data pribadi, mencerna informasi hingga mengidentifikasi hoaks, itu yang lebih diperlukan,” ujarnya .

Keterlibatan Aktif Orang Tua

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Jawa Tengah, Agung Hariyadi, mengatakan bahwa bermain game di era digital itu tidak selalu berdampak negatif. “Karena dari game itu contoh yang Roblox itu punya kemampuan mereka untuk komputasi, mengenal kode-kode di komputer, meningkatkan imajinasi. Tinggal nanti kontrol saja yang penting. Kontrol pemerintah juga mengontrol, orang tua harus mengontrol,” tutur Agung .

Praktisi dan akademisi sepakat bahwa keterlibatan orang tua secara aktif adalah kunci. Orang tua perlu mengubah pola komunikasi dari melarang menjadi dialog. Misalnya menanyakan bukan hanya “main apa?” tetapi juga “apa yang kamu pelajari dari game itu?” . Anak perlu merasa dunia digital mereka dipahami, bukan dimusuhi.

Penguatan Literasi Digital di Sekolah

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mendukung langkah Mendikdasmen dan menyerukan momentum ini menjadi titik tolak perombakan pendidikan digital nasional. Ia mendesak Kemendikdasmen untuk memasukkan literasi digital dalam kurikulum nasional sebagai kompetensi dasar yang wajib dibentuk sejak dini .

“Yang dibutuhkan anak-anak bukan hanya bisa pakai teknologi, tapi tahu kapan tidak digunakan,” tegas Lalu .

Kesimpulan

Larangan Roblox untuk anak SD adalah langkah antisipatif yang perlu diapresiasi. Namun, pelarangan saja tidak cukup. Pendekatan yang lebih holistik harus dijalankan: literasi digital untuk anak, pendampingan aktif oleh orang tua, dan penguatan kurikulum digital di sekolah.

Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak dapat menikmati manfaat teknologi digital sekaligus terlindungi dari risikonya. Dunia digital akan terus berkembang, dan tugas kita adalah membekali anak-anak dengan kompas yang tepat untuk menavigasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version